Jakarta Selatan, 14 Oktober 2026
Ada yang menarik dari sebuah pertemuan ketika gagasan-gagasan serius bisa dibicarakan tanpa harus membuat suasana menjadi terlalu serius.
Begitulah kira-kira suasana audiensi PD IPM Jakarta Selatan bersama PDM Jakarta Selatan. Bukan sekadar pertemuan untuk memperkenalkan kepengurusan dan menyampaikan rencana, audiensi tersebut menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan tentang ke mana gerakan pelajar ini akan dibawa.
Satu hal yang kembali ditekankan Ayahanda PDM cukup sederhana:
"jangan sampai kita terlalu sibuk membuat program, tetapi lupa persoalan apa yang sebenarnya ingin diselesaikan."
Bagi PD IPM Jakarta Selatan, pesan itu sejalan dengan arah gerak yang sedang dibangun. Setiap bidang diharapkan tidak hanya berangkat dari ide kegiatan, tetapi juga dari persoalan yang dekat dengan pelajar. Apa masalahnya? Siapa yang terdampak? Lalu, perubahan apa yang ingin dihadirkan?
Sebab, kami meyakini bahwa keberhasilan sebuah gerakan bukan hanya tentang berapa banyak kegiatan yang terlaksana, ini juga tentang apakah kehadirannya benar-benar berarti.
Obrolan kemudian mengarah pada advokasi pelajar. Ayahanda mendorong agar kerja-kerja advokasi semakin digencarkan dan lebih dekat dengan kehidupan pelajar, termasuk dengan turun langsung ke sekolah-sekolah untuk melakukan survei dan mendengar kebutuhan mereka.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa selalu berbicara atas nama pelajar tanpa terlebih dahulu mendengar suara mereka. Karena, ada persoalan yang mungkin tidak terlihat dari ruang rapat, tetapi terasa nyata di ruang kelas. Di situlah IPM perlu hadir bukan dengan merasa paling tahu, melainkan dengan kesediaan untuk mendengar dan mencari jalan keluar bersama.
Namun, gerakan yang ingin berdampak tentu perlu ditopang oleh organisasi yang kuat. Penguatan PD IPM Jakarta Selatan harus tetap menjadi salah satu pijakan utama. Kaderisasi, tata kelola, komunikasi, dan keberlanjutan organisasi bukan sekadar urusan internal.
Hal yang tidak kalah penting adalah cara kita bergerak bersama. Ayahanda mengingatkan agar semangat kolektif-kolegial tetap menjadi dasar dalam menjalankan organisasi. Tidak semua hal harus bertumpu pada satu orang, dan tidak setiap keputusan harus menunggu satu suara. Gerakan akan lebih sehat ketika setiap kader diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, mengambil peran, dan bertanggung jawab bersama.
Di tengah pembicaraan yang cukup berbobot, suasana audiensi sesekali diselingi candaan. Ada tawa yang mencairkan forum, membuat jarak antargenerasi terasa lebih dekat. Ayahanda pun tampak berusaha mengikuti ritme pimpinan muda yang hadir dalam pertemuan itu.
Mungkin hal semacam ini terlihat sederhana, tetapi justru membuat pertemuan terasa lebih manusiawi. Keseriusan dalam berorganisasi tidak harus selalu ditunjukkan lewat suasana yang tegang. Kita tetap bisa membicarakan masa depan gerakan dengan sungguh-sungguh, sambil sesekali tertawa bersama.













