Aku bingung sekali akhir-akhir ini
Senyum tipis manis miliknya itu tak sampai ke mataku dengan sempurna
Kapan berakhirnya karhutla.
Supaya aksaraku mengalir lagi untuk memuji senyumnya
Yang tengah tertutup kabut asap yang lahir dari karhutla.
Kau tahu, aku jadi tak nyaman memberikan cinta
Di tengah berita udara sedang akrab dengan ISPA
Karhutla lagi biang semuanya.
Namun, tak apa. Toh kata pemerintah semua sudah dalam kendalinya.
Dalam sebuah kejujuran yang luar biasa,
Aku tak suka beraksara untuk selain senyumnya.
Apalagi memberikan sastraku pada hal yang tak kusuka.
Tapi, tampaknya aku harus menjual semua idealisme di kepala
Sebab pada akhirnya, sastra adalah alat kita memuja, meminta dan menuntut hak kita.
Aku tak yakin sastra ini akan dibaca atau didengar para petinggi bangsa
Namun tak apa, sepertinya mereka juga tak tertarik pada aksara apalagi mendengar suara rakyat jelata
Aku hanya ingin suara para penghuni bangsa yang tengah mencari haknya
Disuarakan dengan segala macam cara.
Meski pada akhirnya aku harus beraksara dan bersastra
Untuk selain senyumnya.
Labuhan Maringgai, 28 Oktober 2026













