Opini

Antara Karhutla dan Erupsi. Alam yang Murka atau Bencana yang Disengaja?

Sebuah tulisan Opini berbasis data tentang kejadian yang ada di indonesia. murni bencana alam atau campur tangan manusia?.

azmi.khawarizm3i

azmi.khawarizm3i (@azmikhawarizmi)

Verified Publisher

Terbit

7 September 2026

Durasi

5 min read

Cover

JAKARTA — Langit di sebagian wilayah Indonesia kini memutih dikepung asap tebal, sementara di sudut lain, bumi bergetar memuntahkan abu vulkanik pekat. Menatap kondisi lingkungan hidup Nusantara hari ini yang sedang tidak baik-baik saja, sebuah pertanyaan mendasar dan reflektif menyeruak: Apakah semua rentetan kejadian ini murni karena alam sedang murka, atau ada campur tangan kesengajaan manusia di dalamnya?

Untuk menjawabnya secara objektif, kita harus memisahkan mana bencana yang murni merupakan siklus geologis bumi, dan mana yang lahir dari tangan-tangan serakah perusak lingkungan.

Gejolak Magma: Murni Kemurkaan Alam

Tidak bisa dimungkiri, Indonesia berdiri tegak di atas bentangan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Artinya, hidup berdampingan dengan magma yang terus bergejolak adalah sebuah keniscayaan. Saat ini, alam memang sedang memamerkan dominasinya yang tak bisa ditawar.

Berdasarkan pantauan dari Magma Indonesia hingga Senin (7/9/2026), terdapat lima gunung api di Indonesia yang masih berstatus Level III atau Siaga. Berikut adalah rinciannya:

Anak Krakatau, Level III (Siaga) Erupsi menerus, kemunculan petir vulkanik

Sinabung, Level III (Siaga) Asap kawah tebal putih hingga 500 meter

Semeru, Level III (Siaga) Terus mengalami erupsi, puncak sering tertutup kabut

Merapi, Level III (Siaga) Peningkatan aktivitas vulkanik konsisten

Lewotobi Laki-laki, Level III (Siaga) Aktivitas kegempaan tinggi, rekomendasi larangan radius 5 km

Gunung Anak Krakatau sendiri telah ditetapkan statusnya pada Level III sejak 2 Juli 2026 oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, aktivitas erupsi Anak Krakatau berlangsung menerus sejak 4 September 2026, yang bahkan diwarnai dengan kemunculan kilatan petir vulkanik.

Rentetan erupsi ini jelas bukan sesuatu yang "disengaja". Ini adalah pelepasan energi bumi yang tak bisa dicegah teknologi apa pun.

Api di Lahan Gambut: Bencana yang Sengaja Diciptakan

Namun, narasi yang jauh lebih kelam terlihat pada bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Jika erupsi adalah siklus alam, karhutla adalah jejak rekam kelalaian dan kejahatan lingkungan manusia.

Angka kebakaran hutan di Indonesia tahun ini kembali mencatatkan kerugian masif. Berdasarkan data penanganan pemerintah yang disampaikan pada 7 September 2026, total luas lahan yang terbakar di Indonesia telah mencapai 72.008 hektare. Wilayah utama yang terdampak meliputi:

  • Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Selatan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan salah satu tantangan terbesar adalah kebakaran lahan gambut. BNPB mencatat hingga 7 September 2026, masih ada sekitar 734,81 hektare lahan gambut yang sedang dalam proses pemadaman. Api di gambut menjalar di bawah tanah; hari ini tampak padam, besok menyala kembali.

Berbeda dengan gunung berapi, api tidak menyala sendiri di hutan. Hal ini terbukti dari langkah tegas kepolisian yang telah menetapkan 138 tersangka terkait kasus pembakaran hutan dan lahan secara sengaja atau lalai.

Refleksi: Berhenti Menyalahkan Alam

Jadi, apakah semua ini disengaja atau alam sedang murka? Jawabannya adalah kombinasi dari keduanya.

Alam memang sedang bergejolak melalui aktivitas vulkaniknya yang intens. Namun, di saat alam sedang melepaskan energinya, manusia justru memperparah keadaan dengan merusak permukaan tanah dan memicu kabut asap.

Kita tidak punya kuasa untuk mendinginkan magma, tapi kita memiliki perangkat hukum dan akal budi untuk berhenti menyulut api di lahan gambut.

#Pelajar jaga jakarta
azmi.khawarizm3i

azmi.khawarizm3i (@azmikhawarizmi)

Verified Kader IPM

Belum ada bio publik.

Mungkin kamu suka