HATI SEDINGIN ES KEPAL
-HAFIZSYAH-
Di sudut lain kantin, es kepal pernah menjadi saksi,
serutan es dingin dikepal tangan, sederhana sekali,
namun entah mengapa hatiku tak mampu berdiri,
setiap melihatmu, ia mencair tanpa permisi.
Es itu dingin, tetapi cepat sekali meleleh,
seperti hatiku yang luluh ketika kau menoleh,
tak perlu senyum panjang, tak perlu kata yang indah,
cukup matamu singgah, hatiku sudah menyerah.
Kini kantin itu mungkin hanya tinggal kenangan,
namamu masih tertinggal di sela-sela ingatan,
dulu rasa suka itu hanya kusimpan dalam diam,
sekarang kutuangkan menjadi bait-bait yang tenggelam.
Biarlah tinta ini menjadi tempatku bercerita,
tentang es kepal dan hati yang pernah suka,
jika dulu hatiku mudah meleleh karenamu,
kini biar puisiku yang mengabadikanmu.
PONTIANAK, 27 SEPTEMBER 2026













