Opini

98 Tahun Sumpah Pemuda: Ketika Idealisme Pelajar Kalah oleh Pragmatisme

Terbit

28 Oktober 2026

Durasi

4 menit baca

98 Tahun Sumpah Pemuda: Ketika Idealisme Pelajar Kalah oleh Pragmatisme

Setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sekolah mengadakan upacara, organisasi pelajar menyelenggarakan kegiatan, dan media sosial dipenuhi ucapan tentang semangat persatuan. Namun, setelah semua peringatan itu selesai, pernahkah kita bertanya apakah semangat Sumpah Pemuda benar-benar hidup dalam diri kita sebagai pelajar?

Sudah 98 tahun berlalu sejak para pemuda pada 1928 menyatakan tekad untuk bersatu. Mereka datang dari berbagai daerah dan organisasi, membawa latar belakang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan besar, yakni memperjuangkan persatuan Indonesia.

Mereka tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ada masa depan bangsa yang ingin diperjuangkan bersama.

Lantas, bagaimana dengan pelajar hari ini?

Ketika Semua Harus Ada Keuntungannya

Pernahkah kita mendengar teman berkata, "Untuk apa ikut organisasi kalau tidak dapat sertifikat?" atau "Kenapa harus belajar materi yang tidak keluar saat ujian?"

Mungkin kita pernah mendengar pertanyaan tersebut, atau bahkan mengucapkannya sendiri.

Tanpa disadari, cara berpikir seperti ini bisa menjadi tanda munculnya sikap pragmatis, yaitu ketika seseorang lebih mengutamakan keuntungan langsung dari setiap tindakan.

Tentu tidak salah jika pelajar ingin mendapatkan nilai bagus, sertifikat, atau prestasi. Semua itu penting untuk masa depan.

Namun, apakah setiap kegiatan harus selalu memberikan keuntungan pribadi?

Bagaimana jika membantu teman tidak menghasilkan penghargaan? Bagaimana jika mengikuti kegiatan sosial justru menghabiskan waktu dan tenaga?

Apakah kita masih bersedia melakukannya?

Di sinilah idealisme seorang pelajar diuji. Sebab, tidak semua hal baik selalu memberikan keuntungan yang bisa langsung dirasakan.

Pelajar Bukan Sekadar Penonton Perubahan

Ketika membicarakan Sumpah Pemuda, kita sering membayangkan mahasiswa, aktivis, atau tokoh muda yang berani menyuarakan perubahan.

Padahal, pelajar juga bagian dari pemuda yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Kita tidak harus menunggu lulus sekolah atau menjadi mahasiswa untuk mulai memberikan kontribusi, Menolak perundungan, membantu teman yang kesulitan belajar, menjaga kejujuran saat ujian, hingga menghargai perbedaan pendapat merupakan tindakan sederhana yang mencerminkan semangat persatuan.

Bagi pelajar Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi salah satu ruang untuk belajar mewujudkan nilai-nilai tersebut.

IPM bukan sekadar tempat mencari jabatan, memperbanyak sertifikat, atau menambah pengalaman organisasi. Lebih dari itu, IPM merupakan ruang untuk belajar berpikir kritis, membangun kepedulian, dan menghadirkan perubahan.

Apa artinya menjadi pengurus organisasi jika kita tidak peduli ketika teman mengalami kesulitan?

Apa gunanya memiliki banyak pengalaman kepemimpinan jika kita belum mampu menghargai pendapat orang lain?

Pertanyaan tersebut layak menjadi bahan renungan bagi setiap pelajar.

Menjadi Pelajar Realistis Tanpa Kehilangan Idealisme

Kita juga perlu memahami bahwa menjadi pelajar hari ini tidak selalu mudah.

Tugas sekolah, tuntutan nilai, persaingan prestasi, hingga kekhawatiran terhadap masa depan membuat kita harus semakin pandai menentukan pilihan.

Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi pelajar berprestasi.

Kita boleh mengejar nilai tinggi, mengikuti perlombaan, atau mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan.

Namun, jangan sampai keinginan untuk berhasil membuat kita kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Menjadi realistis bukan berarti harus meninggalkan idealisme.

Kita tetap bisa belajar dengan sungguh-sungguh sambil membantu teman yang mengalami kesulitan. Kita bisa aktif berorganisasi tanpa selalu mengharapkan jabatan. Kita juga bisa memperjuangkan cita-cita pribadi sambil memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebab, keberhasilan seorang pelajar tidak seharusnya hanya diukur dari angka di rapor atau banyaknya penghargaan yang dimiliki.

Menghidupkan Sumpah Pemuda dari Bangku Sekolah

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 seharusnya menjadi kesempatan bagi pelajar untuk melihat kembali tujuan belajar dan berorganisasi.

Apakah kita belajar hanya untuk mendapatkan nilai? Apakah kita mengikuti organisasi hanya untuk memperoleh sertifikat? Ataukah kita juga ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain?

Semangat Sumpah Pemuda tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar.

Terkadang, semangat itu hadir ketika kita berani membela teman yang diperlakukan tidak adil, menjaga persahabatan meskipun berbeda pendapat, atau membantu tanpa mengharapkan balasan.

Para pemuda pada 1928 telah menunjukkan bahwa kepentingan bersama dapat menjadi alasan untuk bersatu.

Kini, tugas kita sebagai pelajar adalah menjaga semangat tersebut melalui tindakan nyata.

Jangan sampai kita menjadi generasi pelajar yang begitu sibuk mengejar masa depan sendiri, hingga lupa bahwa masa depan bangsa juga membutuhkan kepedulian dan peran kita.

Sebab, menjadi pelajar bukan hanya tentang mempersiapkan diri untuk masa depan, tetapi juga tentang belajar menghadirkan perubahan sejak hari ini.

Mungkin kamu suka

Pustaka IPM

Baca buku. Temukan gagasan.

Buku dan pedoman IPM, tersedia dalam PDF dan versi teks.

Jelajahi Pustaka
Punya gagasan? Mulai dari satu tulisan.Mulai menulis

Saluran resmi · WhatsApp

Update MyIPM, langsung di genggaman.

Ikuti kabar fitur, agenda, dan informasi terbaru ekosistem MyIPM tanpa perlu mencari ke mana-mana.

Ikuti channel